Let's join to be our partner Join Now!

Cerita Horror : Aku Belum Mati - Part 1

Please wait 0 seconds...
Scroll Down and click on Go to Link for destination
Congrats! Link is Generated

Aku Belum Mati

Aku Belum Mati - Part 1

Aku Belum Mati
Part 1

Aku terlahir dari keluarga yang kurang mampu.

Ayahku seorang penjual bakso keliling. Yang setiap malam harus mengelilingi dari kampung satu ke kampung yang lain, demi menjajakan dagangannya agar bisa terjual habis. Dan akan mendapat ke untungan untuk menunjang biaya hidup kami sehari hari.

Ya, kami. Yang terdiri dari Ayahku yang bernama Kuncoro. Sedangkan Ibu, bernama Arin.

Namaku Anggi. Sedangkan adikku seorang laki laki bernama Fahry.

Di atas. Tadi aku bilang kurang beruntung. Memang itu faktanya. 

Aku hanya bisa mengenyam bangku sekolah sampai SMP saja. Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan ke sekolah menengah. Walaupun Ayahku berkata, ia mampu membiayai aku untuk terus sekolah.

Tapi tidak. Aku memutuskan tidak melanjutkan sekolah. Aku kasihan dengan Ayah. Jika aku tetap sekolah. Sementara adikku, Fahry. Mulai masuk ke sekolah menengah pertama.

Dan secara otomatis. Ayahku harus lebih giat lagi berkeliling malam untuk menjajakan dagangannya.

Terkadang aku ngeri juga bila mendengar cerita ayah, tentang pengalamannya berkeliling malam. Apa lagi malam jum'at kliwon, yang notabene di bilang malam keramat dan mengandung unsur horor.!

Malam itu. Ayahku, seperti biasa mendorong gerobak baso nya ke tempat pertama yang biasa ia singgahi.

Waktu baru menunjukan jam delapan lebih sedikit. 

Namun. Tempat yang biasanya ramai dengan gurauan anak anak muda baik cowok ada atau cowok. Bahkan anak anak kecil yang masih berlarian pun tak terlihat sama sekali.

Memang sih, suasana malam itu sedikit temaram, karena mendung sebagian sudah menggantung di langit.

Dan rembulan pun sedikit terhalang. Sehingga cahaya nya pun tak tampak jelas.


Menunggu memang satu hal yang paling menyebalkan.! Apalagi menunggu sesuatu yang tak pasti.

Menunggu siapa.? Inem . Iyem. Atau mas Dado. Mungkin Sakur, yang sudah menjadi langganan tetap.?

Berkali kali Ayah, memukul mukul kayu kecil bergaris dengan lubang, sehingga menimbulkan suara khas penjual bakso.

Tok Tok Tok...

Tok tok Tok...

Namun tak satu orang pun yang punya nama di atas tadi keluar dan membeli.

Akhirnya Ayah, menyerah.!

Setengah jam lebih Ayah, bermain tak tok tak tok, mengundang pembeli. Namun, Ayah, berfikir mungkin orang orang kampung ini tengah pergi semua .

Pergi kemana.?

Ada kemungkinan mereka tengah ziarah ketempat para wali.

Memang. Jaman sekarang lagi ngetrend. Bahasanya ziarah. Padahal intinya mereka tamasya.

Ayah mulai mendorong kembali gerobak baksonya.

Pas memasuki kampung sebelah. Gerimis mulai turun satu satu.

" Waduuuhh.. Bagaimana ini. Sudah jam segini baru ngelayanin lima porsi..!

Mana mau hujan lagi.."

Ayah, bergumam dalam hati.

Tetes tetes air dari langit semakin membesar.

Dengan sekuat tenaga. Ayah, mendorong gerobak, karena kebetulan jalan yang di lalui nya agak menanjak.

Dan di depan sana terlihat sebuah pos ronda, yang terbuat dari bambu.

Ayah, bergegas menuju kesana, untuk berteduh. Karena memang hujan turun mulai semakin deras.

Ayah, menengok kiri kanan. Tak satu rumah pun yang terlihat membuka pintu. Padahal di saat hujan hujan begini, biasanya banyak orang yang nungguin tukang bakso.

Tapi, ya itu lah. Resiko pedagang yang berkeliling malam hari.

Setiba di pos ronda. Ayah, mengelap air hujan yang sempat membasahi wajahnya dengan handuk kecil.

Kemudian menyulut sebatang rokok, dan menikmatinya dalam dalam.

Berkali kali ayah, memandangi gerobak bakso yang masih penuh dengan mie dan sayuran serta bakso bakso bulat yang tersusun rapih di bagian depan seperti kotak kaca.

Ayah, membayangkan. Seandainya hujan tak reda sampai satu jam ke depan. Maka dia memutuskan untuk nekat pulang ke rumah walau harus menembus siraman air dari langit. Tentu dengan resiko badan menggigil dan mungkin akan demam.

Daripada harus terus berteduh di pos ronda, yang mungkin Ayah, semakin tersiksa.

Tiba tiba. Ayah melihat di depan sana. Dari sebuah rumah kumuh dan tak berpenghuni. Keluar seorang wanita yang langsung menghampiri dirinya.

" Bakso nya Pak, yang pedes ya.."

" Satu apa dua, Neng.? " Tanya Ayah, merasa sedikit gemetar.

" Satu aja..." Sahut wanita itu kemudian duduk di tepi balai balai bambu. Menunggu pesanan baksonya.

" Ini Neng, bakso nya. Kalau kurang pedes, Neng ambil sendiri aja sambel nya.." Kata Ayah, sambil meletakan wadah sambal di samping wanita tadi.

Wanita itu melihat ke arah Ayah.

Ayah terkejut. Namun berusaha tetap tenang.

Saat wanita tadi melihat ke arah Ayah. Wajah wanita itu pucat pasi seperti tanpa darah.

Cantik memang. Dia memiliki wajah yang lonjong berambut agak panjang. Namun...Matanya begitu beku tanpa ada sinar kehidupan.

Ayah, mulai mencurigai. Kalau wanita itu bukanlah manusia biasa...

Ayah, berpura pura menjatuhkan alat pemukul tik tok baksonya.

Dan apa yang terjadi.?

Wanita itu tidak memiliki sepasang kaki. yang seharusnya saat duduk menapak di tanah.

Ayah, gemetaran luar biasa. Dia membaca do'a do'a di dalam hati.

Ia memohon kepada Allah, agar wanita yang bukan manusia itu tidak mengganggunya.

Wanita itu menikmati bakso itu, dengan santai, tidak terburu buru. Sesekali dia melirik Ayah, yang duduk di sudut balai balai dengan menahan lututnya yang bergetar.

Setelah selesai. Wanita itu pun memberikan selembar uang dua puluh ribuan.

' Aduh Mbak...Saya belum laku dagangnya. Jadi enggak ada kembalian nya. Apa Mbak, enggak ada uang pas aja.,,"

Ayah, memeriksa laci yang memang kosong. Dan di saku celana nya hanya ada selembar uang lima puluh ribuan

" Enggak apa apa, Bang. Ambil aja kembaliannya.." Balas wanita itu bangkit dari duduknya.

" Apa enggak sekalian di bungkus aja, Neng. Buat orang yang di rumah.?"

" Saya tinggal sendirian, Bang.."

" Oh. Kalau begitu, biar buat besok aja ya, Neng..? "

" Iya, Bang. Semoga dagangan nya laris sampai habis, Bang.."

" Terimakasih, Neng...!"

Kata Ayah, sambil mengelap mangkok bekas makan wanita itu.

Namun begitu Ayah melirik ke arah wanita tadi ternyata sudah tak ada.

Dan yang lebih anehnya lagi. Setelah wanita itu lenyap.

Hujan pun tiba tiba reda. Dan rembulan kembali menerangi malam itu.

" Bang bakso...! " Teriak seorang wanita yang baru saja membuka pintu rumahnya.

Ayah, kemudian mendorong gerobak bakso nya menghampiri wanita yang memanggilnya.

Belum selesai melayani wanita itu. Di belakang Ayah, sudah terlihat beberapa orang yang membawa mangkok masing masin.

Sungguh di luar dugaan. Kalau malam itu sebelum pukul sebelas. Jualan Ayah sudah habis semua.

Sesampainya di rumah. Ia menceritakan kejadian yang baru saja ia alami.

" Apakah Ayah, melihat wajahnya.?" Tanya Ibu, sambil sesekali menepis perasaan nya yang ikut merinding.


Bersambung.

Post a Comment

Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.